Senin, 20 November 2017
Pedoman Penulisan Skripsi

Pedoman Penulisan Skripsi


- Skripsi dapat diartikan sebagai karya tulis yang disusun oleh seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan kurang lebih 135 sks (tergantung kebijakan universitas) dengan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Utama dan Dosen Pembimbing II sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Pendidiksan S1 (Sarjana).
Tujuan dalam Penulisan Skripsi ialah memperlihatkan pemahaman terhadap mahasiswa supaya dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan serta dapat menuangkannya secara sistematis dan terstruktur.

Isi dari Penulisan Skripsi  dibutuhkan memenuhi aspek-aspek di bawah ini :
1.  Relevan dengan jurusan dari mahasiswa yang bersangkutan.
2.  Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3.  Masalah dibatasi, sesempit mungkin.

Bentuk laporan penulisan Skripsi untuk jenjang Akademik Strata Satu (S1)  terdiri dari:

A. Bagian Awal.
Bagian Awal ini terdiri dari:
1.    Halaman Judul
2.    Lembar Pernyataan
3.    Lembar  Pengesahan
4.    Abstraksi
5.    Halaman Kata Pengantar
6.    Halaman Daftar Isi
7.    Halaman Daftar Tabel
8.    Halaman Daftar Gambar: Grafik, Diagram, Bagan, Peta dan sebagainya

B. Bagian Tengah.
Bagian tengah ini terdiri dari:
1.    Bab Pendahuluan
2.    Bab Landasan Teori
3.    Metode Penelitian.
4.    Bab Analisis Data dan Pembahasan
5.    Bab  Kesimpulan dan Saran

C. Bagian Akhir.
Bagian simpulan terdiri dari:
1.    Daftar Pustaka
2.    Lampiran       

Penjelasan secara terinci dari Struktur Penulisan Skripsi dapat dilihat sebagai berikut :
A. Bagian Awal.  
Pada episode ini berisi hal-hal yang bekerjasama dengan penulisan skripsi yakni sebagai berikut :

1.  Halaman Judul
     Ditulis sesuai dengan cover depan Penulisan Skripsi standar Universitas Gunadarma. 
2.  Lembar Pernyataan
Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan skripsi ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.
3.  Lembar Pengesahan
Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing, Daftar Nama Panitia Ujian yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota.  Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing dan Kepala Bagian Sidang Sarjana.
4.  Abstraksi
     Yakni berisi ringkasan wacana hasil dan pembahasan secara garis besar  dari Penulisan Skripsi dengan maximal 1 halaman.
5.  Kata Pengantar
     Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan Skripsi (a.l. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Pembimbing, Perusahaan, dll ).
6. Halaman Daftar Isi
Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.
7.  Halaman Daftar Tabel                                   
8.  Halaman Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram                      

B. Bagian Tengah  

1.   Pendahuluan
           Pada Bab Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub pokok episode yang meliputi antara lain :
a.      Latar Belakang Masalah
Menguraikan wacana alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b.      Rumusan Masalah
Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c.       Batasan Masalah
Memberikan batasan yang terang pada episode mana dari dilema atau masalah yang dikaji dan episode mana yang tidak.
d.      Tujuan Penelitian
Menggambarkan hasil-hasil apa yang mampu dicapai dan dibutuhkan dari penelitian ini dengan memperlihatkan balasan terhadap masalah yang diteliti.
e.       Metode  Penelitian
Menjelaskan cara pelaksanaan acara penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
                  Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a.  Studi Pustaka     : Semua materi diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b.  Studi Lapangan  : Data diambil eksklusif di lokasi penelitian.
c.  Gabungan   : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
f.       Sistematika Penulisan
                Memberikan gambaran umum dari episode ke episode isi dari Penulisan Skripsi

2.   Landasan Teori 
          Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang mampu diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.
3.   Metode Penelitian
           Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.
4.   Analisis Data dan Pembahasan
Membahas wacana keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.
     5.  Kesimpulan (dan Saran)
          Bab ini mampu terdiri dari Kesimpulan saja atau ditambahkan Saran.
      -    Kesimpulan
            Berisi balasan dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
      -    Saran
           Ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR

-    Daftar Pustaka
     Berisi daftar rujukan (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan
-    Lampiran
     Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhi tungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

TEKNIK PENULISAN SKRIPSI

1.  Penomoran Bab serta Sub-bab
-    Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
-    Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana episode ini terdapat.
     II ………. (Judul Bab)
     2.1 ………………..(Judul Subbab)
     2.2 ………………..(Judul Subbab)
     2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
-    Penulisan nomor dan judul episode di tengah dengan abjad besar, ukuran font 14, tebal.
-    Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan abjad besar, ukuran font 12, tebal.
2.  Penomoran Halaman
-    Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi abjad kecil (i,ii,iii,iv,…).Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.
-    Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari episode pertama ialah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal episode di episode bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.
-    Bagian akhir, nomor halaman ditulis di episode bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada episode pokok.
3.  Judul dan Nomor Gambar / Grafik / Tabel
-    Judul gambar / grafik diketik di episode bawah tengah dari gambar. Judul tabel diketik di sebelah atas tengah dari tabel.
-    Penomoran tergantung pada episode yang bersangkutan, teladan : gambar 3.1 berarti gambar pertama yang aga di episode III.
4.    Penulisan Daftar Pustaka
-    Ditulis berdasarkan urutan penunjukan rujukan pada episode pokok goresan pena ilmiah.
-    Ditulis menurut kutipan-kutipan
-    Menggunakan nomor urut, kalau tidak dituliskan secara alfabetik
-    Nama pengarang ajaib ditulis dengan format : nama keluarga, nama depan.
     Nama pengarang Indonesia ditulis normal, yaitu : nama depan + nama keluarga
-    Gelar tidak perlu disebutkan.
-    Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu pustaka dengan pustaka lainnya diberi jarak dua spasi.
-    Bila terdapat lebih dari tiga pengarang, cukup ditulis pengarang pertama saja dengan aksesori ‘et al’.
-    Penulisan daftar pustaka tergantung jenis informasinya yang secara umum memiliki urutan sebagai berikut :
     Nama Pengarang, Judul karangan (digarisbawah / tebal / miring), Edisi, Nama Penerbit, Kota Penerbit, Tahun Penerbitan.
-    Tahun terbit disarankan minimal tahun 2000
6.    Penulisan Daftar Pustaka
Satu Pengarang

1.      Budiono. 1982. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta : Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
2.      Friedman. 1990. M. Capitalism and Freedom. Chicago : University of Chicago Press.

Dua Pengarang

1.      Cohen, Moris R., and Ernest Nagel. 1939. An Introduction to Logic and Scientific Method. New york: Harcourt
2.      Nasoetion, A. H., dan Barizi. 1990.  Metode Statistika. Jakarta: PT. Gramedia

Tiga Pengarang

1.      Heidjrahman R., Sukanto R., dan  Irawan. 1980. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
2.      Nelson, R.., P. Schultz, and R. Slighton. 1971. Structural change in a Developing Economy. Princeton: Princeton University Press.

Lebih dari Tiga Pengarang
1.      Barlow, R. et al. 1966. Economics Behavior of the Affluent. Washington D.C.: The Brooking Institution.
2.      Sukanto R. et al. 1982. Business Frocasting. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.

Pengarang Sama
1.    Djarwanto Ps. 1982. Statistik Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
2.    ____________. 1982. Pengantar Akuntansi. Yogyakarta: Bagian penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.

Tanpa Pengarang 
1.    Author’s Guide. 1975. Englewood Cliffs, N.J. : Prentice Hall.
2.    Interview Manual. 1969. Ann Arbor, MI: Institute for Social Research, Universiy of Michigan.

Buku Terjemahan, Saduran atau Suntingan.
1.    Herman Wibowo (Penterjemah). 1993. Analisa Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Erlangga.
2.    Karyadi dan Sri Suwarni (Penyadur). 1978. Marketing Management. Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

Buku Jurnal atau Buletin
1.      Insukindro dan Aliman, 1999. “Pemilihan dan Bentuk Fungsi Empirik : Studi Kasus Permintaan Uang Kartal Riil di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 14, No. 4:49-61.
2.      Granger, C.W.J., 1986. “Developments in the Study of Co-integrated Economic Variables”, Oxford Bulletin of Economics and Statistics, Vol.48 : 215-226.

 Format Pengetikan Skripsi
-    Menggunakan kertas ukuran A4.
-    Margin   Atas     : 4 cm              Bawah : 3 cm
                   Kiri      : 4 cm              Kanan : 3 cm
-    Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
-    Jenis abjad (Font) : Times New Roman.                      
-    Ukuran / variasi huruf    : Judul Bab      14 / Tebal + Huruf Besar
                                              Isi                 12 / Normal
                                             Subbab          12 / Tebal

Hasil Penulisan Skripsi

-          Dijilid berbentuk buku dengan jumlah halaman paling sedikit 12 (dua belas) halaman tidak termasuk cover, halaman judul, daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka
-          Dipresentasikan dan dianjurkan menggunakan Power Point pada ketika pelaksanaan Sidang Sarjana (S1) di hadapan para penguji Sidang. 
-          Diketik dengan menggunakan Program Software Pengolah Kata, misal : Ms Word
-          Dicetak dengan printer (dianjurkan dengan LASER PRINTER)

 Lampiran
Lampiran ini berisi data, gambar, tabel atau analisis dan lain-lain yang alasannya ialah terlalu banyak, sehingga tidak mungkin untuk dimasukkan kedalam bab-bab sebelumnya.

Kutipan
Dalam penulisan hasil penelitian ilmiah biasanya dimasukkan kutipan-kutipan. Ada beberapa macam kutipan sebagai berikut:
a.    Kutipan eksklusif (Direct Quatation) yang terdiri dari kutipan eksklusif pendek dan kutipan eksklusif panjang. Kutipan eksklusif pendek ialah kutipan yang harus persis sama dengan sumber aslinya dan ini biasanya untuk mengutip rumus, peraturan, puisi, difinisi, pernyataan ilmiah dan lain-lain. Kutipan eksklusif pendek ini ialah kutipan yang panjangnya tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup dimasukkan kedalam teks dengan memberi tanda petik diantara kutipan tersebut. Sedangkan kutipan panjang eksklusif ialah kutipan yang panjangnya melebihi tiga baris ketikan dan kutipan harus diberi daerah tersendiri dalam alinea baru.
b.  Kutipan tidak eksklusif (Indirect Quatation)  merupakan kutipan yang tidak persis sama dengan sumber aslinya. Kutipan ini merupakan ringkasan atau pokok-pokok yang disusun menurut jalan pikiran pengutip. Baik kutipan tidak eksklusif pendek maupun panjang harus dimasukkan kedalam kalimat atau alinea. Dalam kutipan tidak eksklusif pengutip tidak boleh memasukkan pendapatnya sendiri.
            Catatan kaki atau footnone ialah catatan wacana sumber karangan dan setiap mengutip suatu karangan harus dicantumkan sumbernya. Kewajiban mencantumkan sumber ini untuk menyatakan penghargaan kepada pengarang lain yang menyatakan bahwa penulis meminjam pendapat atau buah pikiran orang lain. Unsur-unsur dalam catatan kaki meliputi: nama pengarang, judul karangan, data penerbitan dan nomor halaman.

            Ada dua cara dalam menempatkan sumber kutipan sebagai berikut:
a.    Cara ringkas yaitu menempatkan sumber kutipan dibelakangbahan yang dikutip yang ditulis dalam tanda kurung dengan menyebutkan “Nama pengarang, Tahun penerbitan dan Halaman yang dikutip”.
b.    Cara langsung yaitu menempatkan sumber kutipan eksklusif dibawah pernyataan yang dikutip yang dipisahkan dengan garis lurus sepanjang garis teks. Jarak antara garis pemisah dengan teks satu spasi, jarak antara garis pemisah dengan sumber kutipan dua spasi, dan jarak baris dari kutipan harus satu spasi.

Perekonomian Indonesia Sebelum Orde Baru

- Tahun 1996 merupakan tonggak sejarah penting bagi bangsa Indonesia, bukan saja dalam konteks politik tetapi juga pada konteks ekonomi. Tahun tersebut menandai awal Orde Baru. Perjalanan ekonomi semenjak orde gres (termasuk segala prestasi pembangunannya) tidak layak dipisahkan sama sekali dari masa-masa sebelumnya, pembahasan mengenai masa-masa sebelum orde gres ini sangat berharga untuk memahami perekonomian Indonesia secara utuh.
            Perekonomian Indonesia pada masa sebelum orde gres secara pilitis (awal kemerdekaan hingga tahun 1995) dapat dipilah menjadi tiga periode, yaitu:
  1.     Periode 1945-1950
  2.     Periode Demokrasi Parlementer (1950-1959)
  3.     Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Periode Demokrasi Parlementer juga dikenal dengan Periode Demokrasi Liberal. Periode ini berakhir pada tanggal 5 Juli 1959, Ketika presiden Soekarno menerbitkan dekrit yang menyatakan Indonesia kembali ke UUD 1945. Setelah itu politik Indonesia menganut Demokrasi Terpimpin. Periode Demokrasi Terpimpin dikenal dengan sebutan Periode Orde Lama. Sepanjang kurun waktu 1945-1965 keadaan politik sangat labil. Pemerintah jatuh bangun, cabinet silih berganti. Adapun pergantian cabinet Indonesia kurun waktu 1945-1965, antara lain:
1.      Kabinet Hatta, Desember 1949 -  September 1950
2.      Kabinet Natsir, September 1950 – Maret 1951
3.      Kabinet Sukiman, April 1951 – Februari 1952
4.      Kabinet Wilopo, April 1952 – Juni 1953
5.      Kabinet Ali I, Agustus 1953 – Juli 1955
6.      Kabinet Burhanuddin, Agustus 1955 – Maret 1956
7.      Kabinet Ali II, April 1956 – Maret 1957
8.      Kabinet Djuanda, Maret 1957, Agustus 1959

Sesudah tahun 1959 hingga dengan 1965, perekonomian dipegang oleh Presiden  Soekarno setelah dia mengangkat dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri. Pada masa ini lahir Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun.

Selama satu setengah dasawarsa (1951-1966), perekonomian Indonesia tumbuh relative lamban. Pendapatan perkapita tumbuh hanya 2,7 persen rata-rata pertahun. Produksi terbesar pembentuk produk nasional paling besar disumbang oleh sektor pertanian dengan andil lebih dari 50 persen. Sedangkan, sektor perdagangan dan sektor industry masing-masing menduduki peringkat kedua dan ketiga.

Keprihatinan situasi perekonomian Indonesia selama kala sebelum Orde Baru dapat dilihat juga dari beberapa neraca ekonomi nasional, yakni neraca pendapatan dan belanja negara, neraca perdagangan, dan neraca pembayaran luar negeri. Anggaran Pemerintah Indonesia deficit sepanjang tahun 1955-1965. Dalam kurun waktu antara 1960 dan tahun1965 rekening transaksi berjalan senantiasa negative.

Demikianlah sedikit gambaran keadaan perekonomian negara kita sebelum Orde Baru. Banyak pelajaran yang mampu kita petik dari sejarah tersebut.

Sumber: Perekonomian Indonesia (Dumairy)

Struktur Ekonomi Indonesia

- Istilah struktur dipakai untuk menunjukkan susunan atau komposisi dari sesuatu. Struktur ekonomi dipergunakan untuk menunjukkan komposisi atau susunan sektor-sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Sektor yang mayoritas atau yang diandalkan mempunyai kedudukan paling atas dalam struktur tersebut dan menjadi ciri khas dari suatu perekonomian.

Dimaksudkan dengan sektor ekonomi yang mayoritas atau yang diandalkan ialah sektor ekonomi yang menjadi sumber mata pencaharian sebagian terbesar penduduk serta menjadi penyerap tenaga kerja yang terbesar. Sektor ekonomi yang mayoritas atau jago dapat juga berarti sektor yang menunjukkan bantuan terbesar terhadap produk nasional dengan laju pertumbuhan yang tinggi, yang menjadi ciri khas dari suatu perekonomian.
Dikenal dua macam struktur ekonomi, yaitu:
1.      Struktur agraris, ialah struktur ekonomi didominasi oleh sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sumber mata encaharian sebagian terbesar penduduknya. Pada umumnya negara-negara berkembang (developing countries) termasuk Indonesia disebut negara agraris dan negara-negara yang termasuk negara-negara belum berkembang (under developed countries) yang pertaniannya masih sangat tradisional dikategorikan negara agraris tradisional.
2.      Industri, dimana struktur ekonomi didominasi oleh sektor industri. Sebagian terbesar produk domestik disumbangkan dan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggal disumbangkan oleh sektor industri. Negara-negara amerika Serikat, Jerman, Inggris, Perancis, Italy, Jepang dan Kanada yang termasuk negara industri maju, negara-negara Eropa dan negara-negara lainnya termasuk negara industri.

Struktur Ekonomi Indonesia Dilihat dari Berbagai Sudut Tinjauan
Struktur ekonomi sebuah Negara dapat dilihat dari banyak sekali sudut tinjauan. Dalam hal hal ini, struktur ekonomi dapat dilihat dari empat macam sudut pandang, yaitu :
1.      Tinjauan makro-sektoral
2.      Tinjauan keruangan
3.      Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan
4.      Tinjauan birokrasi pengambilan keputusan
    Tinjauan makro – sekoral dan tinjauan keruangan merupakan tinjauan ekonomi murni. Sedangkan Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan dan Tinjauan birokrasi pengambilan keputusan merupakan tinjauan politik.
    Berdasarkan tinjauan makro – sektoral sebuah perekonomian dapat berstruktur agraris, industrial, atau niaga. Berdasarkan tinjauan keruangan perekonomian dapat dinyatakan berstruktur kedesaan / tradisional dan berstruktur kekotaan / modern.
    Berdasarkan tinjauan penyelenggaraan kenegaraan, menjadi perekonomian yang berstruktur etatis, egaliter, atau borjuis.Tergantung pada siapa / kalangan mana yang menjadi tugas utama dalam perekonomian yang bersangkutan.
    Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusan, dapat dibedakan antara struktur ekonomi yang sentralistis dan desentralistis.

Tinjauan Makro-Sektoral
Dilihat secara makro-sektoral atau berdasarkan kontribusi sector-sektor produksi dalam membentuk produk domestic bruto, perekonomian Indonesia yang sampai tahun 1990 masih agraris, kini berubah berstruktur industrial. Artinya Negara Indonesia sebelum tahun 1990 masih memiliki produksi dari sector pertanian sangat tinggi, atau mampu dibilang sebagai penyumbang terbesar produksi nasional, namun kini produksi pertanian kini semakin mengalami penurunan, sedangkan dari sector industry begitu meningkat produksinya. Sektor-sektor lainnya juga mengalami peningkatan produksi, sehingga hanya sektor pertanian saja yang mengalami penurunan.
Berikut ini data perihal PDB Indonesia menurut persentase Kontribusi sektoral, pada tahun 1969-2009:
Sektor ekonomi
1969
1979
1989
2005
2006
2007
2008
2009
Pertanian
49,3
28,1
23,4
13,1
13,0
13,7
14,5
15,3
Pertambangan
4,7
21,8
13,1
11,1
11,0
11,2
10,9
10,5
Industry pengolahan
9,2
10,3
18,4
27,4
27,5
27,1
27,9
26,4
Listrik, gas, air minum
0,5
0,5
0,6
1,0
0,9
0,9
0,8
0,8
Bangunan
2,8
5,6
5,3
7,0
7,5
7,7
8,5
9,9
Transportasi dan komunikasi
2,8
4,4
5,5
15,6
15,0
14,9
14,0
13,4
Perdagangan
30,7
28,4
17,0
6,5
6,9
6,7
6,3
6,3
Keuangan dan perbankan
6,4
8,3
8,1
7,7
7,4
7,2
Jasa
10,2
10,3
10,0
10,1
9,7
10,2
PDB
100
100
100
100
100
100
100
100

  Sesungguhnya struktur ekonomi Indonesia secara makro-sektoral masih dualistis, artinya struktur  ekonomi Indonesia mampu dibilang industri jikalau dilihat dari besarnya produksi nasional yang disumbangkan sektor industry, namun juga mampu dibilang agraris, alasannya ialah dari segi absorpsi tenaga kerja, sektor pertanian masih merupakan sektor utama sumber kehidupan rakyat.

Tinjauan Lain
Pergeseran  struktur ekonomi secara makro – sektoral ini senada ddengan pergeserannya secara spasial. Dilihat dari kacamata spasial, perekonomian telah bergeser dari semula berstruktur kedesaan/tradisional menjadi kini berstruktur kekotaan/moderen.
Dilihat dari kacamata politik, semenjak awal orde gres sampai pertengahan dasawarsa 1980-an perekonomian Indonesia berstruktur etatis, yaitu pemerintah atau negarra merupakan pelaku utama ekonomi. Sementara ini, perekonomian Indonesia masih berstruktur borjuis, belum mengarah ke struktur perekonomian yang egaliter, alasannya ialah gres kalangan pemodal dan usahawanlah yang dapat cepat menanggapi ajakan pemerintah untuk berperan lebih besar dalam perekonomian nasional.
Berdsarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusannya,struktur perekonomian Indonesia selama masa pembangunan jangka panjang tahap pertama sentralis. Pembuatan keputusan lebih banyak ditetapkan oleh pemerintah pusat atau kalangan atas pemerintahan. Namun sejak awal masa pembangunan jangka panjang tahap ke dua struktur ekonomi sentralis mulai berkurang kadarnya. Keinginan untuk desentralisasi dan demokrasi ekonomi kian besar.
Struktur ekonomi yang sedang kita hadapi ketika ini sebetulnya merupakan suatu struktur yang tradisional. Kita sedang beralih dari struktur yang agraris ke industrial, dari struktur yang etatis ke borjuis, dari struktur yang kedesaan / tradisional ke kekotaan / modern. Sementara dalam hal birokrasi dan pengambilan keputusan mulai desentalistis.